Rupiah Terjun Bebas Atau Melemah - Sudah Menyentuh Level Rp13.000 per dollar AS

Nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta, Rabu pagi ini terus bergerak melemah sebesar 78 poin menjadi 13.161 dibanding posisi sebelumnya 13.083 per dolar AS. "Nilai tukar rupiah secara beruntun tertekan mata uang Dollar. Penguatan ini seiring dengan besarnya ekspektasi pelaku pasar uang terhadap kenaikan suku bunga di Amerika Serikat," kata Kepala Riset Monex Investindo Futures Ariston Tjendra di Jakarta.

Melemahnya mata uang negara-negara berkembang, termasuk rupiah, juga disebabkan oleh belum adanya kepastian pembicaraan utang Yunani. Situasi itu menambah katalis positif bagi dolar AS. "Faktor utama pelemahan rupiah masih didorong sentimen global, sementara dari dalam negeri masih cukup kondusif," kata Ariston.

Pengamat pasar uang dari Bank Himpunan Saudara, Rully Nova, menambahkan bahwa fundamental ekonomi Indonesia yang masih cukup stabil dapat membuat rupiah dalam jangka menengah-panjang berpotensi kembali terapresiasi. "Rupiah akan bergerak sesuai dengan fundamental ekonomi Indonesia dalam jangka menengah-panjang," ucap Rully.

Para ekonom memperkirakan nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (AS) akan menyentuh level Rp13.000 per dollar AS, setelah menyentuh  level Rp12.900 per dollar AS pada Selasa (16/12/2014). Beragam dampak buruk jika nilai tukar rupiah terus melemah pun sudah siap mengancam perekonomian nasional.

Hal tersebut dipaparkan oleh David Sumual, Ekonom BCA. “Efeknya pasti akan mengganggu ekonomi nasional,” tutur David, Senin (15/12/2014). Diperkirakan akan ada empat dampak buruk jika nilai tukar rupiah terus melemah, yaitu:
    Besarnya kebutuhan akan barang impor, yang harganya naik karena menguatnya nilai tukar dollar AS, juga membuat inflasi semakin tak terkendali. Pebisnis yang menggunakan bahan baku impor juga semakin kelimpungan. “Bahan baku naik, tapi pengusaha tak bisa lagi menaikkan harga barang karena sudah menaikkan harga saat kenaikan BBM,” ungkap Haryadi Sukamdani, Ketua Kadin Indonesia.

    Semakin lebarnya defisit neraca perdagangan (mencapai AS$1,64 miliar sepanjang Januari-Oktober 2014) dan semakin sulitnya Bank Indonesia (BI) mendorong defisit transaksi berjalan ke level di bawah 3%. Hal tersebut merujuk pada besarnya kebutuhan warga Indonesia terhadap barang impor sehingga devisa yang keluar akan semakin besar. 

    Meningkatnya beban anggaran negara karena berdasarkan data Kementerian Keuangan, setiap rupiah melemah Rp100, defisit anggaran bertambah Rp940,4 miliar-Rp1,21 triliun. Jadi, jika rupiah melemah Rp1.000 sejak awal tahun, maka negara akan mengalami defisit anggaran sebesar Rp9 triliun-Rp12triliun.

    Terjadinya peningkatan beban utang pemerintah dan korporasi. Setiap depresi Rp100 per dollar AS, biaya bunga utang negara naik Rp207 miliar, atau Rp2 triliun jika rupiah melemah Rp1.000. Sedangkan korporasi, dimana 80% pengutang vallas tidak menggunakan hedging (lingung nilai), sudah harus bersiap gulung tikar jika nilai tukar rupiah terus melemah.

    Di luar dampak buruk jika nilai tukar rupiah terus melemah yang dipaparkan di atas, kejatuhan mata uang suatu negara juga menandai turunnya kepercayaan investor terhadap negara tersebut.
    Share this article :
    +
    Previous
    Next Post »
    0 Komentar untuk "Rupiah Terjun Bebas Atau Melemah - Sudah Menyentuh Level Rp13.000 per dollar AS "